Tatapan Penuh Cinta
بسم الله الرحمن الرحيم
Sekedar Renungan :
Tatapan Penuh Cinta
Pernahkah anda menatap orang-
orang terdekat anda saat
ia sedang tidur?
Kalau belum, cobalah sekali saja
menatap mereka saat
sedang tidur. Saat itu
yang tampak adalah ekspresi paling
wajar dan paling
jujur dari seseorang.
Seorang artis yang ketika di
panggung begitu cantik
dan gemerlap pun bisa
jadi akan tampak polos dan jauh
berbeda jika ia sedang
tidur. Orang paling
kejam di dunia pun jika ia sudah
tidur tak akan tampak
wajah bengisnya.
Perhatikanlah ayah anda saat beliau
sedang tidur.
Sadarilah, betapa badan yang dulu
kekar dan gagah
itu kini semakin tua dan ringkih,
betapa rambut-rambut
putih mulai
menghiasi kepalanya, betapa kerut
merut mulai terpahat
di wajahnya.
Orang inilah yang tiap hari bekerja
keras untuk
kesejahteraan kita, anak-anaknya.
Orang inilah, rela melakukan apa
saja asal perut kita
kenyang dan pendidikan kita lancar.
Sekarang, beralihlah.
Lihatlah ibu anda.
Hmm...kulitnya mulai keriput dan
tangan yang dulu
halus membelai-belai tubuh bayi kita
itu kini kasar
karena tempaan hidup yang keras.
Orang inilah yang
tiap hari mengurus
kebutuhan kita. Orang inilah yang
paling rajin
mengingatkan dan mengomeli
kita semata-mata karena rasa kasih
dan sayang, dan
sayangnya, itu sering kita salah
artikan.
Cobalah menatap wajah orang-
orang tercinta itu :
Ayah, Ibu, Suami, Istri, Kakak, Adik,
Anak, Sahabat,
Semuanya.
Rasakanlah sensasi yang timbul
sesudahnya. Rasakanlah
energi cinta yang
mengalir pelan-pelan saat menatap
wajah lugu yang
terlelap itu.
Rasakanlah getaran cinta yang
mengalir deras ketika
mengingat betapa
banyaknya pengorbanan yang telah
dilakukan orang-orang
itu untuk kebahagiaan anda.
Pengorbanan yang kadang tertutupi
oleh kesalah pahaman
kecil yang entah
kenapa selalu saja nampak besar.
Secara ajaib Tuhan mengatur agar
pengorbanan itu bisa
tampak lagi melalui
wajah-wajah jujur mereka saat
sedang tidur.
Pengorbanan yang kadang
melelahkan namun enggan mereka
ungkapkan.
Dan ekspresi wajah ketika tidur pun
mengungkap
segalanya.
Tanpa kata, tanpa suara dia berkata :
"betapa lelahnya aku hari ini".
Dan penyebab lelah itu?
Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak
lain adalah kita.
Suami yang bekerja keras mencari
nafkah, istri yang
bekerja keras mengurus
dan mendidik anak, juga rumah.
Kakak, adik, anak, dan
sahabat yang telah
melewatkan hari-hari suka dan duka
bersama kita.
Resapilah kenangan-kenangan
manis dan pahit yang
pernah terjadi dengan menatap
wajah-wajah mereka.
Rasakanlah betapa kebahagiaan dan
keharuan seketika
membuncah jika mengingat itu
semua.
Bayangkanlah apa yang akan terjadi
jika esok hari
mereka "orang-orang
terkasih itu" tak lagi membuka
matanya, selamanya
.....
Love and Peace,

Komentar
Posting Komentar