Sa'd Bin Ubadah Ra
Sa'd Bin Ubadah Ra
Sa'd bin Ubadah adalah sahabat Anshar pada angkatan pertama, ia memeluk
dan mengukuhkan keislamannya di hadapan Nabi SAW pada Ba'iatul Aqabah
kedua. Ia seorang tokoh dari suku Khazraj, putra dari Ubadah bin Dulaim
bin Haritsah, seorang tokoh yang terkenal kedermawanannya di masa
jahiliah. Ubadah bin Dulaim selalu menyediakan makanan bagi tamu dan
musafir siang dan malam, pada siang hari ia menugaskan orang untuk
mengundang siapa saja untuk makan dirumahnya. Dan pada malam harinya ia
menyuruh seseorang lainnya menyalakan api sebagai petunjuk jalan,
sekaligus mengundang orang untuk makan malam di rumahnya. Tidak heran
jika sifat dan sikap tersebut menurun pada diri anaknya, Sa'd bin
Ubadah.
Pada masa awal hijrah di Madinah, Rasulullah SAW
mempersaudarakan orang-orang Muhajirin, yang kebanyakan dalam keadaan
miskin karena meninggalkan harta kekayaannya di Makkah dengan seorang
sahabat Anshar. Umumnya para sahabat Anshar menjamin dan melayani dua
atau tiga orang sahabat Muhajirin, tetapi Sa'd bin Ubadah membawa 80
orang Muhajirin ke rumahnya. Karena kebiasaan sejak nenek moyangnya yang
sulit atau tidak bisa ditinggalkannya itu, Sa’d pernah berdoa, "Ya
Allah, tiadalah (harta) yang sedikit ini memperbaiki diriku, dan tidak
pula baik bagiku…."
Nabi SAW mendengar doanya, dan beliau
memahami bahkan sangat memuji sifat dermawannya tersebut. Maka beliau
ikut mendoakannya, "Ya Allah, berilah keluarga Sa'd bin Ubadah, karunia
dan rahmat-Mu yang tidak terbatas!!”
Karena doa Rasulullah SAW
tersebut, Sa'd bin Ubadah beserta keluarganya selalu dilimpahi kelebihan
harta sehingga "tradisi" kedermawanan seolah menjadi "brandmark"
keluarga besar ini. Putranya, Qais bin Sa'd juga mempunyai "kegemaran"
yang sama, bahkancenderung berlebihan dalam bersedekah pada usianya yang
masih sangat muda. Sa'd tidak pernah melarang atau mencegahnya,
sehingga Abu Bakar dan Umar pernah memperbincangkan "gaya hidup" pemuda
tersebut dengan berkata, "Kalau kita biarkan pemuda ini dengan
kedermawanan dan kepemurahannya, pastilah akan habis tandas kekayaan
orang tuanya….!"
Ketika pembicaraan tersebut sampai kepada Sa'd
bin Ubadah, ia berkata, "Siapakah yang dapat membela/memberi hujjah
diriku atas Abu Bakar dan Umar? Diajarkannya kepada anakku bersikap
kikir dengan memakai namaku…!"
Sa'd bin Ubadah juga terkenal
sebagai tokoh Madinah yang sering memberikan perlindungan dan menjamin
keamanan perdagangan dari mereka yang lewat atau berkunjung di Madinah,
termasuk kafilah dagang kaum Quraisy. Ada peristiwa menarik yang terjadi
pada Ba'iatul Aqabah kedua.
Sekitar tujuh puluh lima atau lebih
orang Yatsrib yang berba'iat kepada Nabi SAW sebenarnya hanya sebagian
saja dari rombongan haji (tradisi jahiliah) dari kota tersebut yang
dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketika ba'iat yang dilakukan
pada sepertiga malam akhir di salah satu hari tasyriq telah selesai,
tiba- tiba ada orang yang memergoki pertemuan tersebut dan berteriak
memanggil kaum Quraisy. Nabi SAW segera menyuruh mereka kembali ke
perkemahannya, berbaur dengan kaum musyrikin Yatsrib lainnya dan
pura-pura tidur.
Pada pagi harinya ketika kaum Quraisy mendatangi
perkemahan orang Yatsrib untuk mengecek kebenaran berita tentang
pertemuan (sebagian) mereka dengan Nabi SAW, dan tentu saja Abdullah bin
Ubay menolak dengan keras ‘tuduhan’ tersebut. Memang, selama ini
penduduk Yatsrib selalu memberitahukan kepada Abdullah bin Ubay,
tindakan dan keputusan yang mereka ambil, mereka tidak berani
melangkahinya begitu saja. Tetapi pada peristiwa ini, untuk pertama
kalinya mereka menyembunyikan sikapnya dari pemimpinnya tersebut, yang
kemudian hari menjadi pimpinan dan tokoh dri kaum munafik. Kaum kafir
Quraisy tidak bisa berbuat banyak dengan penolakannya itu, tetapi
diam-diam mereka melakukan penyelidikan.
Ketika musim haji telah
selesai dan para peziarah telah pulang ke daerahnya masing-masing, kaum
kafir Quraisy memperoleh bukti dan saksi kuat bahwa orang-orang Yatsrib
memang terlibat dalam pertemuan tersebut. Merekamelakukan pengejaran,
tetapi terlambat, hanya saja mereka mendapati dua orang yang tertinggal,
yakni Sa'd bin Ubadah dan Mundzir bin Amir. Mereka melepaskan Mundzir
karena tampak lemah, sedang Sa'd diikat dan dibawa kembali ke Makkah.
Sampai
di Makkah, Sa'ddikerumuni, lalu dipukul dan disiksa layaknya kalangan
miskin di Makkah yang memilih memeluk Islam, padahal ia adalah tokoh
terpandang dan dermawan yang sangat dihormati di Madinah. Inilah sahabat
Anshar pertama yang disiksa karena keislamannya, atau bisa jadi Sa'd
satu-satunya sahabat Anshar yang "menikmati" pengalaman pahit sahabat
muhajirin yang memeluk Islam, yakni penyiksaan tokoh-tokoh kaum kafir
Quraisy. Ketika penyiksaan makin memuncak dan ia mulai tampak lemah, ada
seseorang yang berkata kepadanya, "Tidak adakah kalangan di antaramu
yang mengikat jaminan perlindungan dengan salah seorang Quraisy?"
"Ada..!!" Kata Sa'd bin Ubadah.
"Siapa orang Quraisy itu?"
"Jubeir bin Muth'im dan Harits bin Harb bin Umayyah…!"
Sa'd
bin Ubadah memang pernah memberikan jaminan perlindungan kepada kafilah
dagang mereka berdua ketika melewati Madinah, bahkan menjamu mereka
dengan baik. Lelaki itu menghubungi kedua tokoh Quraisy tersebut dan
mengabarkan tentang lelaki Khazrajbernama Sa'd bin Ubadah yang disiksa.
Segera saja keduanya datang ke tempat penyiksaan dan membebaskan Sa'd
dari tangan-tangan jahat orang kafir Quraisy.
Sa'd segera
meninggalkan Makkah menyusul rombongan haji Yatsrib, khususnya
sekelompok orang yang telah memeluk Islam. Mereka ini harap-harap cemas
menunggu kedatangan Sa'd dan berembug untuk kembali ke Makkah menyusul
Sa'd. Tetapi belum sempat mereka mewujudkan niat tersebut, terlihat Sa'd
datang dalam keadaan luka dan lemah.
Sa'd bin Ubadah adalah
seorang yang mempunyai karakter keras dan teguh pendirian, tidak mudah
digoyahkan oleh pendirian dan pendapat orang lain. Pengalaman pahit
setelah Ba'iatul Aqabah kedua tersebut makin mengukuhkan kekerasan
sikapnya dalam membela Nabi SAW dan Islam, terkadang terlihat menjadi
ekstrim seperti yang terjadi saat Fathul Makkah.
Fathul Makkah,
berawal dari pelanggaran kaum Quraisy atas perjanjian Hudaibiyah. Bani
Bakr yang menjadi sekutu Quraisy menyerang Bani Khuza'ah yang menjadi
sekutu Nabi SAW di Madinah, bahkan kaum Quraisy diam-diam memberikan
dukungan senjata dan personal kepada Bani Bakr. Ketika orang-orang Bani
Khuza'ah berlindung ke tanah suci Makkah yang memang diharamkan
menumpahkan darah di sana, mereka tetap membunuhnya, dan kaum Quraisy
sebagai "pengelola" tanah suci Makkah membiarkan itu terjadi.
Beberapa
orang Bani Khuza'ah pergi melaporkan peristiwa tersebut kepada Nabi SAW
di Madinah. Beliau-pun menghimpun pasukan besar berbagai kabilah, dan
masing-masing dipimpin oleh tokoh kabilahnya. Dan bendera kaum Anshar
diserahkan kepada Sa'd bin Ubadah. Ketika mulai memasuki Kota Makkah,
terbayanglah di pelupuk matanya bagaimana Nabi SAW dan para sahabat pada
masa awal mengalami berbagai siksaan dan ancaman dari kaum kafir
Quraisy. Terbayang juga bagaimanaperilaku mereka ketika merusak dan
menyayat jenazah para syahid di medan perang Uhud. Bahkan masih jelas
terasa siksaan yang dialaminya ketika ia selesai mengikuti Ba'iatul
Aqabah kedua. Karena itu ia berkata, "Hari ini hari berkecamuknya
perang, hari ini dihalalkan hal yang disucikan, hari ini Allah akan
menghinakan Quraisy!!"
Perkataannya ini terdengar oleh Abu Sufyan
yang merupakan pucuk pimpinan kaum Quraisy, walau saat itu ia telah
mulai tertarik untuk memeluk Islam, dan melaporkannya kepada Nabi SAW.
Utsman dan Abdurrahman bin Auf juga mengkhawatirkan sikapnya, bahkan
Umar bin Khaththab berkata, "Ya Rasulullah, dengarkanlah apa yang
dikatakan oleh Sa'd bin Ubadah, saya khawatir kalau-kalau ia akan
menyerang kaum Quraisy hingga tumpas…!!”
Mendengar
pendapat-pendapat tersebut, Nabi bersabda, "Justru hari ini adalah hari
diagungkannya Ka'bah, dimuliakannya kaum Quraisy…"
Setelah itu
Nabi SAW mengirim utusan untuk memerintahkan Sa'd menyerahkan bendera
Anshar kepada anaknya, Qais bin Sa'd. Sebagian riwayat menyebutkan
bendera tersebut diserahkan kepada Ali atau Zubair bin Awwam. Tentu saja
dengan senang hati Sa'd memenuhi perintah Nabi SAW tersebut, karena apa
yang dikatakannya, hanyalah ekspresi dirinya dalam rangka membela Nabi
SAW dan Islam, bukan sikap dendam pribadi.
Sikap tegas dan jauh
dari kemunafikan tampak pada diri Sa'd bin Ubadah seusai perang Hunain.
Pada pertempuran tersebut, banyak sekali ghanimah (rampasan perang) yang
diperoleh pasukan muslim, tetapi Nabi SAW mendahulukan membagikannya
kepada orang-orang Quraisy yang baru memeluk Islam, bahkan ada yang
masih menunda memeluk Islam, padahal pada awal peperangan mereka ini
sempat meninggalkan arena pertempuran. Sementara kepada kaum Anshar,
beliau tidak menyisakan sedikitpun dari ghanimah tersebut, padahal
justru mereka yang banyak berperan melindungi Nabi SAW, dan akhirnya
berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan pertempuran.
Para
sahabat Anshar hanya berbisik-bisik memperbincangkan sikap beliau tanpa
berani menyampaikannya kepada Nabi SAW. Keadaan ini tidak disukai oleh
Sa'd, karena itu ia menghadap Nabi SAW dan berkata, "Ya Rasulullah,
golongan Anshar merasa kecewa atas sikap engkau dalam hal harta rampasan
(ghanimah) yang kita peroleh. Engkau membagi-bagikan kepada kaummu dan
pemimpin-pemimpin Quraisy secara berlebih, sementara kepada kaum Anshar
engkau tidak memberikan sedikitpun…"
Nabi SAW tersenyum mendengar
perkataan Sa'd yang terus terang tersebut, dan bersabda, "Bagaimana
dengan dirimu (sikapmu) sendiri wahai Sa'd?"
"Ya Nabiyallah, aku ini tidak lain hanyalah salah satu dari kaumku saja…!!"
Nabi
SAW memerintahkan Sa'd mengumpulkan kaum Anshar di suatu tempat. Sa'd
melaksanakan perintah beliau, beberapa orang Muhajirin ingin ikut serta
tetapi Sa'd menolaknya, tetapi pada sebagian yang lain Sa'd membolehkan
mereka hadir dalam kumpulan kaum Anshar tersebut. Setelah semua
berkumpul, Sa'd menjemput Nabi SAW.
Di majelis kaum Anshar ini
Nabi SAW berbicara panjang lebar mengenai apa yang menjadi ganjalan dan
beban terpendam dalam diri mereka soal ghanimah, beliau juga
mengingatkan tentang masa jahiliah dan keislaman mereka. Terlalu panjang
untuk dijabarkan pada kisah Sa'd ini, tetapi pada ujungnya, Nabi SAW
seolah menetapkan bagaimana sebenarnya ketinggian dan keutamaan kaum
Anshar di mata Allah dan Rasul-Nya, dan itu semua tidak terlepas dari
"keberanian" Sa'd berterus terang kepada beliau walaupun tampaknya
kurang sopan dan tidak etis.
Antara lain Nabi SAW bersabda,
"….Tidakkah kalian rela, wahai kaum Anshar, mereka pulang membawa unta,
domba dan harta lainnya, sedang kalian pulang membawa Rasulullah ke
tanah tumpah darah kalian. Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di
tangan-Nya, kalau tidaklah karena hijrah, tentulah aku ini termasuk kaum
Anshar. Jika orang-orang menempuh jalan di celah gunung, dan orang
Anshar menempuh jalan di celah lainnya, tentulah aku mengikuti jalan
yang ditempuh orang-orang Anshar……Ya Allah, rahmatilah orang-orang
Anshar, anak orang-orang Anshar, cucu orang-orang Anshar, generasi demi
generasi….."
Orang-orang Anshar, termasuk Sa'd menangis
sesenggukan mendengar penjelasan Nabi SAW tersebut, hingga air mata
membasahi jenggot-jenggot mereka. Dengan haru mereka berkata, "Kami
ridha dengan pembagian Allah dan Rasul-Nya….!!"
Ketika Nabi SAW
wafat, dan para tokoh muslimin bertemu di saqifah Bani Saidah untuk
menentukan khalifah pengganti beliau, Sa'd berdiri pada kelompok sahabat
Anshar yang menuntut agar kekhalifahan dipegang kaum Anshar. Tetapi
ketika musyawarah mengarah kepada dipilihnya Abu Bakar, yang memang
sudah sangat dikenal keutamaannya di sisi Rasulullah SAW, ia bersama
kaum Anshar yang mendukungnya dengan ikhlas hati berba'iat kepada Abu
Bakar dan melepaskan tuntutannya.
Ketika Abu Bakar wafat dan Umar
terpilih sebagai khalifah, Sa'd ikut berba'iat kepadanya. Hanya saja ia
sadar, Umar mempunyai watak keras dan teguh pendirian seperti dirinya
juga, yang bisa saja sewaktu-waktu terjadi perbenturan yang berakibat
buruk. Sangat mungkin terjadi perpecahan karena kaum Anshar pasti akan
berdiri di belakangnya menghadapi Umar, karena itu, ia bermaksud pindah
dari tanah kelahiran yang dicintainya. Namun seolah tidak ingin
kehilangan sikap terus terangnya dan takut dihinggapi kemunafikan, ia
mendatangi Umar dan berkata, "Demi Allah, sahabat anda, Abu Bakar lebih
aku sukai daripada anda…!!"
Setelah itu Sa'd pergi ke Syria
(Syam), tetapi ketika ia singgah di Hauran (sudah termasuk wilayah
Syam), ia sakit dan meninggal dunia di sana.

Komentar
Posting Komentar